BIOLOGY IS FUN

makalah alga

>> Kamis, 13 November 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar belakang

Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Sebagai Negara dengan luas wilayah lebih dari 70 %, salah satu kekayaan alam yang bisa kita manfaatkan adalah sumber daya alam hayati. Selain ikan, alternative hasil laut yang bisa diolah adalah alga meskipun tidak semua alga bisa digunakan.
Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan tumbuhan talus karena belum memiliki akar, batang dan daun sejati. Algae (ganggang) dapat dibedakan menjadi tujuh kelompok yaitu : cyanophyta, cholrophyta, euglenophyta, pyrrophyta, crysophyta, phaeophyta, rhodophyta.berdasarkan pigmen dominannya ketujuh kelompok tersebut meliputi: Chrysophyta, Phaeophyta, dan Rhodophyta.
Salah satu manfaat dari alga adalah Chrysophyta yang merupakan bagian yang terdiri dari fitoplankton. Navicula merupakan fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of the sea. Beberapa hewan laut kecil seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat, lemak, dan protein dari diatomae. Sisa diaromae yang telah mati berbentuk deposit yang disebut tanah diatoni. Tanah diaromae sering dimanfaatkan sebagai penyerap trinitrogliserin (TNT) pada bahan peledak, campuran semen, sebagai bahan penggosok, bahan penyaring, solasi penyuling gasoline dan glukosa serta digunakan sebagai bahan untuk pembuat jalan.
Secara umum alga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Habitat, habitat alga adalah tempat-tempat yang berair baik air tawar maupun air laut. Tempat-tempat yang lembab pohon dan lain sebagainya . alga juga dapat dapat ditemukan pada tempat-tempat yang memiliki suhu-suhu ekstrem tinggi atau ekstrem rendah.
Struktur tubuh sel, individu-individu uniseluler yang dapat bergerak (motil) dengan bantuan bulu cambuk(flagel) dan individu-individu yang multiseluler mempunyai beberapa bentuk antara lain: koloni senobium, koloni agregat, filamen, sifoneus, parenkimateus.
Susunan sel, alga memiliki dua tipe sel yang bersifat prokariaotik maupun eukariotik. Tipe plastida yang dijumpai pada alga adalah kloroplas dengan bermacam-macam pigmen yang diperlukan untuk fotosintesis.
Pigmen pada alga memperlihatkan variasi warna yang cukup nyata seiring dengan perubahan-perubahan pada kondisi linkungan yang berbeda.
Klorofil diketahui ada 5 macam yang ditemukan pada alga Yaitu klorofil a dapat ditemukan pada semua jenis alga. Klorofil b hanya ditemukan pada chlorophyta, dan euglena. Klorofil c dapat ditemukan pada chrysophyta, pyrrophyta, cryptophyta dan phaeophyta, klorofil d hanya dijumpai pada rhodophyta, sedangkan klorofil e hanya dimiliki oleh semua genus tribonema dan pada zoosprora vancheria.

Cadangan makanan, bentuk candangan makanan alga yang disimpan bervariasi antar kelompok alga . pada chlorophyta berupa amilum seperti pada tumbuhan tinggi. Pada cyanophyta berupa tepung myxophycean dan pada rhodophyta berupa tepung floridean dan padaphaeophyta cadangan makanan berupa laminarin dan manitol.
Alat gerak, berupa flagel
Perkembangbiakan, dengan cara vegetatif, sporik, dan gametik.
Daur hidup dan pergantian keturunan, daur hidup adalah proses yang dimulai dari satu individu sampai terbentuk generasi baru. Selama perkembangan alga melalui sejumlah tahap yang berbeda dan urutanya disebut sejarah hidup. Dalam daur hidup untuk setiap alga adalah berbeda, tumbuhan yang mempunyai generasi dengan inti haplit disebut gametofit.dan yang mengandung inti diploid disebut sporofit. Urutan secara teratur dari gametofit dan sporofit disebut pergantian generasi.

Dindind sel, dinding sel tersusun oleh 2 macam bahan, bagian dalam tersusun dari bahan yang tidak larut dalam air dan bagian luar tersusun oleh pectin.

Struktur/susunan sel, sel alga biru bersifat prokariotik, sedangakan yang lainya bersifat eukariotik.
Dalam makalah ini hanya akan mempelajari empat divisi, yaitu cholorophyta, pyrrophyta, crysophyta, dan phaeophyta. Yang akan dibahas secara lengkap dan mendetail.

1.1tujuan
Adapun tujuan saya untuk membuat makalah ini:

a.untuk menyelesaikan tugas botani tumbuhan rendah yang telah diberikan pada saya.

b.untuk mengetahui tentang alga khususnya cholorophyta, pyrrophyta, crysophyta, dan phaeophyta.
1.3 tinjauan pustaka
Alga adalah tumbuhan nonvascular yang memilika benruk thalli yang beragam, uniseluler atau multiseluler, dan berpigmen fotosintetik. Alga bentik (makroalga) dapat hiduup di perairan tawar dan laut (bold & wynne 1978:1; dawea 1981:59). Makroalga adalah tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat pada subtract didasaran laut. Tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang daun, bunga, buah, dan biji ssejati (sumich 1979:99; mnConnaughey &zottoli 1983: 114 lerman 1986:39). Makroalga terbesar didaerah litoral dan sublitoral. Daerah tersebut masih dapat memperoleh cahaya matahari yang cukup sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung (dawes 1981:13). Makraoalga menyerap nutrisi berupa fosfor dan nitrogen dari lingkungan sekitar perairan (leviton 2001: 270).
Menurut atmaja & sulistijo ( 1988: 5), makroalga dapat diklasifikasikan menjadi tiga divisi berdasarkan kandungan pigmen fotosintetik dan pigmen asesoris, yaitu: cholorophyta, phaeophyta, dan rhodophyta.


Bab 2
Divisi cholorophyta (alga hijau)
2.1 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Chlorophyta
Class : Chlorophyceae
Ordo : Halimedales
Genus : Caulerpa
Species : Caulepra racesmosa

2.2 IDENTIFIKASI
A. Pengertian Chlorophyta
Chlorophyta merupakan kelompok besar (lebih dari 7000 spesies) yang anggotanya terdiri dari algae hijau yang hidup sebagai plankton di air tawar dan sebagian kecil di air laut. berbentuk filamen nonmotil atau thaloid, dan mempunyai flagella. Sel-selnya dikelilingi oleh dinding selulosa yang sama dengan tanaman hijau multiseluler seperti halnya kloroplasnya. Hal ini mendukung argumentasi bahwa Chlorophyta termasuk dalam kingdom tumbuhan. Diduga ancestornya merupakan autotrof fotosintetik yang merupakan penyatuan endosimbiotik antara eukariotik heterotrofik dan Cyanobacteria.

B. Habitat
Chrysophyta umumnya hidup di air tawar (90%) yang merupakan suatu penyusun plankton atau sebagai bentos bersel besar ada yang hidup di air laut(10%), terutama dekatpantai. Ada jenis chlorophyceae yang hidup pada tanah-tanah yang basah. Bahkan diantaranya ada yang tahan akan kekeringan. Sebagian lainnya hidup bersimbiosis dengan lichenes, dan ada yang intraseluler pada binatang rendah.
Jenis yang hidup di air tawar bersifat kosmopolit, terutama hidup ditempat yang cahayanya cukup seperti : kolam, danau, genangan air hujan, pada air mengalir (sungai atau selokan). Alga hijau ditemukan pula pada lingkungan semi akatik yaitu pada batu-batuan, tanah lembab dan kulit batang pohon yang lembab (protococus dan trentepolia). Beberapa anggotanya hidup dii air mengapung atau melayang, sebagian hisup sebagai plankton. Beberapa jenis ada yang hidup melekat pada tumbuhan ataupun hewan.

C. Struktur Tubuh
Struktur tubuh bervariasi baik dalam ukuran, bentuk maupun susunanya. Untuk mencakup sejumlah besar variasi tersebut, maka alga hijau dapat dikelompkkan sebagai berikut:
Sel tunggal (uniseluler) dan motil (ex:Chlamydomonas)
Contoh:chlamidomonas
Srl tunggal uniseluler dan non motil (ex:Chlorella)
Contoh:chlorella
Sel senobium (koloni yanh mempunyai jumlah sel tertentu sehingga mempunyai bentuk yang relatif tetap)
Contoh: vlvax, pandorina.
Koloni tak baraturan (ex:tetraspora)
Filamen (ada yang bercabang dan tidak bercabang)
Contoh tidak bercabang: ulothorix
Contoh yang bercabang: pithophora
Heterotrikus (filamen barcabang bentuknya terbagi menjadi prostate dan erect)
Contoh: stigeoclonium
Foliaceus atau parenkimatis (filamen yang pembelahan sel vegetatif terjadi lebih dari satu bidang.
Contoh: ulva
Tubular (talus yang memiliki banyak inti tanpa sekat melintang)
Contoh: caulerpa.


D. Struktur sel
1.Dinding sel
Dinding sel tersusunan atas dua lapisan dalam yang tersusun atas selulosa dan lapisan luar tersusun atas pektin. Tetapi beberapa alga bangsa volvocales dindingnya tidak mengandung selulosa. Melainkan tersusun atas glikoprotein. Dinding sel caulerpa mengandung xylan datau mannan.
2.Kloroplas atau tempat pembentukan klorofilKloroplas terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen yang terdapat dalam kloroplas yaitu klorofil a dan klorofil b, beta karoten serta berbagai macam xantifil (lutein, violaxanthin, zeaxanthin) kloroplas dalam sel letaknya mengikuti bentuk dinding sel ( parietal,ex: ulotrix atau ditengah lumen sel ( axial,ex:muogotia). Pada umumnya satu kloroplas setiap sel tetapi pada siponoles zygnemales terdapat lebih dari satu kloroplas setiap sel. Bentuk kloroplas sangat berfariasi. Faroasi bentuk kloroplas adalah sebagai berikut:
Bentuk mangkuk ( ex:Clamydomonas)
Bentuk sabuk ( ex:Ulotrix)
Bentuk cakram ( ex:Chara)
Bentuk anyaman (ex:Oedogonium)
Bentuk spiral (ex:Spyrogyra)
Bentuk bintang (ex:Zygnema)
Bentuk lembaran
Gambar 2.1 kloroplas
Amilum dari chlorophceae seperti pada tumbuhan tingkat tinggi, tersusun sebagai rantai glukosa tak bercabang yaitu amilose dan rantai yang bercabang amilopektin. Sering kali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama dengan badan protein dalam plastida disebut pirenoid. Tetapi beberapa jenis tidak mempinyai pirenoid merupaka golongan chlorophyceae yang tinggi tingkatannya. Jumblah pirenoid umumnya dalam tiap sel tertentu da[pat digunakan sebagai bukti taksonomi.
1.Pengelompokan chlorophyta berdasarkan pigmentasi sebagai berikut:

1.
Chlorella
Organisme ini banyak ditemukan sebagai plankton air tawar. Ukuran tubuh mikroskopis, bentuk bulat, berkembangbiak dengan pembelahan sel.
Peranannya bagi kehidupan manusia antara lain, digunakan dalam penyelidikan metabolisme di laboratorium. Juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat-obatan, bahan kosmetik dan bahan makanan. Serbuk Chlorella dalam industri obat-obatan dimasukkan dalam kapsul dan dijual sebagai suplemen makanan dikenal dengan “Sun Chlorella”. Pengembangannya saat ini di kolam-kolam (contohnya di Pasuruan)

2.
Chlorococcum
Tubuh bersel satu, tempat hidup air tawar, bentuk bulat telur, setiap sel memiliki satu kloroplas bentuk mangkuk. Reproduksi dengan membentuk zoospora (secara aseksual)
b.
Chlorophyta bersel tunggal dapat bergerak
1.
Chlamidomonas
Bentuk sel bulat telur, memiliki 2 flagel sebagai alat gerak, terdapat 1 vacuola, satu nukleus dan kloroplas. Pada kloroplas yang bentuknya seperti mangkuk terdapat stigma (bintik mata) dan pirenoid sebagai tempat pembentukan zat tepung.
Reproduksi aseksual dengan membentuk zoospora dan reproduksi seksual dengan konjugasi (perhatikan gambar berikut ini).
Chlorophyta berbentuk koloni tidak bergerak
Contoh: Hydrodictyon
Hydrodictyon banyak ditemukan di dalam air tawar dan koloninya berbentuk seperti jala. Ukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Reproduksi vegetatif dengan zoospora dan fragmentasi. Fragmentasi dilakukan dengan cara melepas sebagian koloninya dan membentuk koloni baru. Sedangkan reproduksi generatif dengan konjugasi.
Chlorophyta berbentuk koloni dapat bergerak
Contoh: Volvox
Volvox ditemukan di air tawar, koloni berbentuk bola jumlah antara 500 - 5000 buah. Tiap sel memiliki 2 flagel dan sebuah bintik mata. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan seksual dengan konjugasi sel-sel gamet.

Gambar 2.3 Konjugasi sel gamet Volvox
Chlorophyta berbentuk benang
Contoh:
1.
Spyrogyra
Ganggang ini didapatkan di sekitar kita yaitu di perairan. Bentuk tubuh seperti benang, dalam tiap sel terdapat kloroplas berbentuk spiral dan sebuah inti. Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual dengan konjugasi. Adapun langkah-langkah konjugasi antara lain
Dua benang saling berdekatan, sel yang berdekatan saling membentuk tonjolan. Ujung kedua tonjolan yang bersentuhan saling melebur membentuk saluran konjugasi. Lewat saluran itu terjadilah aliran protoplasma dari satu sel ke sel yang lain. Kedua plasma melebur, disebut peristiwa plasmogami dan segera diikuti oleh peleburan inti yang disebut kariogami. Hasil peleburan membentuk zigospora diploid. Zigospora mengalami meiosis dan ditempat yang sesuai berkembang menjadi benang Spirogyra baru yang haploid.

1.

Ulva
Ganggang ini ditemukan di dasar perairan laut dan menempel di dasar, bentuk seperti lembaran daun. Berkembangbiak secara vegetatif dengan menghasilkan spora dan spora tumbuh menjadi Ulva yang haploid (n), Ulva haploid disebut gametofit haploid. Kemudian secara generatif menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Pertemuan gamet jantan dan gamet betina akan menghasilkan zigot (Z2n). Zigot berkembang menjadi Ulva yang diploid disebut sporofit. Selanjutnya sporofit membentuk spora yang haploid setelah mengalami meiosis. Selanjutnya mengalami mitosis dan menghasilkan gametofit haploid (perhatikan gambar di bawah).


Gambar 2.5 Siklus hidup Ulva

2.
Chara
Chara hidup di air tawar terutama melekat pada batu-batuan. Bentuk talus seperti tumbuhan tinggi, menyerupai batang, yang beruas-ruas dan bercabang-cabang, berukuran kecil. Pada ruasnya terdapat nukula dan globula. Di dalam nukula terdapat arkegonium dan menghasilkan ovum. Di dalam globula terdapat anteridium yang memproduksi spermatozoid. Spermatozoid akan membuahi ovum dan menghasilkan zigospora yang berdinding sel. Pada reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan cara fragmentasi.
1.Pergerakan Fototaksis
>pergerakan dengan flagella
Pada umumnya sel alga hijau baik sel vegetatif maupun sel generatif dijumpai adanya alat gerak. Flagella pada kelas chorophyceae selalu bertipe whiplash (akronomatik) dan sama panjang (isokon), kecuali pada bangsa Oedogoniales memiliki type stefanokon. Flagella dihubumgkan dengan struktur sel yang sangat halus disebut aparatus neuromotor, merupakan granula pada pangkal dari tiap flagella disebut blephoroplas. Granula tersebut masing-masing dihubungkan oleh benang yang letaknya melintang disebut paradesmosa. Risoplas merupakan benang tegak dan lurus menghubungkan salah satu dari granula (blepharoplas) dengan struktur intranuklear dari inti disebut sentrosom.
>pergerakan dengan sekresi lendir
Dalam monografi tentang desmid, terjadi pergerakan pada desmid dipermukaan lumpur dalam laboratorium. Pergrakan tersebut disbabkan adanya stimulus cahaya yang diduga oleh adanya sekresi lendir melalui porus dinding sel pada bagian apical dari sel. Selama pergerakan ke depan bagian kutub berayun dari satu sisi kesisi yang lain sehingga lendir bagian belakang seperti berkelok-kelok.








E. perkembangbiakan

Gambar 2.7chlorophyta
1.Secara vegetatif
perkembangbikan vegetatif dilakukan dengan fragmentasi tubuhnya dan pembelahan sel.
2.Secara Aseksual,
dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang menjadi individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin. Pada umumnya terjadi dengan perantara spora, oleh karena itu sering disebut perkembangbiakan secara sporik.
zoopora dibentuk oleh sel vegetative, tetapi beberapa tumbuhan terbentuk dalam sel khusus disebut sporangia. Zoopora setelah periode berenang beberapa waktu berhenti pada subtract yang sesuai, umumnya dengan ujung anterior. Flagella dilepaskan dan terbentuk dinding , selama proses ini alga mensekresikan lendir yang berperan untuk mempertahankan diri.
Selain dengan zoopora, perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan:
Aplanospora, hipnospora, autospora.

2.Secara Seksual,
dengan anisogami. Gamet jantan menyerupai zoospora dan selalu bergerak bebas. Gamet betina kadang-kadang tidak bergerak, jadi merupakan suatu oogonium. Perkawinan terjadi karena adanya daya tarik yang bersifat kemotaksis.Zigot biasanya berupa suatu sel yang berdinding tebal, bulat, dan kadang-kadang berwarna merah karena mengandung hematokrom.
Pada kebanyakan Chlorophyceae pembelahan reduksi terjadi pada perkecambahan zigot, jadi ganggang hijau adalah organisme haploid. Alat-alat perkembangbiakan seksual dan aseksual (gamet dasn spora) terdapat pada satu individu, tetapi tiap-tiap individu tidak menghasilkan kedua macam alat perkembangbiakan itu. Biasanya terdapat suatu deretan tumbuhan yang selalu berkembangbiak secara vegetatif dan baru kemudian muncul individu yang berkembangbiak secara generatif. Jadi, meskipun kedua-duanya haploid, ada yang bersifat vegetatif dan ada yang bersifat generatif. Dengan pemindahan tempat terjadinya pembelahan reduksi dari zigot ke sporangium pada fase aseksual, terjadilah pergiliran keturunan antara sporofit yang diploid dengan gametofit yang haploid. Pada pembelahan reduksi terjadi penentuan jenis kelamin.
Menurut smith (1955) kelas clorophyta terdiri dari 10 bangsa
Yaitu:
1.volvocales
2.tetrasporales
3.ulotichuless
4.oedogonales
5.ulvales
6. chizogonales
7.cholorococales
8.simphonales
9.siphonocladales
10.zygnematales.
Sedangkan menurut mattox dan stewart (1984 ) ada 5 klas cholorphyta yaitu:
1.Micromonadophyceae
2.Charophyceae
3.Pleurastrophyceae
4.Ulvuphyceae
5.cholorophyceae






F. Cadangan Makanan
Cadangan makanan pada chlorophta berupa amilum seperti pada tumbuhan tinggi, tersusun sebagai rantai glukosa tidak bercabang yaitu amilase dan rantai yang bercabang amilopektin. Seringkali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama dengan badan protein dalam plastida yang disebut pirenoid. Tetapi beberapa jenis tidak mempunyai pirenoid dan jenis yang demikian ini merupaka golongan chorophycae yang telah tinggi tingkatanya. Bab 3
divisi pyrrophyta
3.1Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisio : Dinoflagellates
Class :Dinoflagellata, Dinophyceae
Phylum :Dinophyta
Order :Gonyaulacales
Species :Gonyaulax balechii

3.2 IDENTIFIKASI

Gambar 3.1Vpyrrophyta
A. PENGERTIAN
Pyrrophyta atau lebih dikenal sebagai Dinophyceae atau Dinoflagellata (nama ini berasal dari gerakan berputar dari sel swimming )merupakan protista yang hidup di laut atau air tawar, dikelompokkan sebagai protista autotrof oleh adanya klorofil a dan c , tetapi tidak mempunyai klorofil b pigmen xantophil yang khas yaitu peridinin, neoperidinin, dinoxanthin dan neodinoxanthin) dan  karoten yang memberikan warna coklat atau warna coklat emas.

B. Habitat
Pyrrophyta berasal dari lautan (dominan) tetapi ada beberapa ratus spesies yang lain yang berada di air segar. Pyrrophyta memiliki variasi nutrisi yang besar dari autototropik ke bentuk heterotropik yang mana terdapat vertebrata parasit dan ikan atau alga phagocytiza yang lain.
C. Struktur Tubuh
Organisme ini memiliki peranan sebagai plankton baik di air tawar dan di air laut. Meskipun lebih berfariasi bentuk yang ditemukan di air laut. Klas dinophyceae motil tersusun oleh epiko dan hipokon yang terbagi secara melintang oleh girdre (sabuk/ sigulum)
Epikon dan hipokon paa umumnya dibagi menjadi sejumlah lempengan (teka) dan jumlah serta susunan karakterisrik pada tingkat marga sulcus letaknya membujur.
Bentuk sel tunggal contoh: peridinium dan ceratium berbentuk filament yang bercabang-cabang, contoh: dinotrix dan dinoclanium susunan sel: anggota pyrrophyta banyak yang ditemukan tanpa adanya dinding sel, sedangkan anggota yang memiliki dinding sel terdiri dari selulosa dan lempeng-lempeng.
Contoh: glenodinium dan peridinium terdapat lekukan pada tubuh selnya.


D. STRUKTUR SEL
Pembagian Pyrrophyta dalam 2 golongan berdasarkan pada ada tidaknyanya penutup sel (ampiesma) yaitu yang telanjang (unarmored) dan mempunyai penutup sel (theca). Pada theca terdapat pelat-pelat seperti baja dengan komponen utama sellulosa. Jumlah dan letak pelat digunakan sebagai dasar dalam pemberian nama Peridinium.
Mempunyai bintik mata (stigma), berupa kumpulan butir lipid yang mengandung pigmen karetinoid.
Tubuh dinoflagellata primitif pada umumnya berbentuk ovoid tapi asimetri, mempunyai dua flagella, satu terletak di lekukan longitudinal dekat tubuh bagian tengah yang disebut sulcus dan memanjang ke bagian posterior. Sedangkan flagella yang lain ke arah transversal dan ditempatkan dalam suatu lekukan (cingulum) yang melingkari tubuh atau bentuk spiral pada beberapa belokan. Lekukan tranversal disebut girdle, merupakan cincin yang simpel dan jika berbentuk spiral disebut annulus. Flagellum transversal menyebabkan pergerakan rotasi dan pergerakan kedepan, sedangkan flagellum longitudinal mengendalikan air ke arah posterior.
Sel Dinoflagellata terbagai secara transversal oleh cingulum menjadi epiteka dan hipoteka. Pada Peridinium, epiteka tersusun atas 2 seri: apical dan precingular. Pada beberpara genus terdapat seri pelat yang tidak sempurna pada permukaan dorsal dengan 1-3 pelat interkalar anterior (a). Hipoteka tersusun atas 2 seri transversal: cingular dan antapikal juga sering terdapat seri yang tidak sempurna yaitu interkalar posterior.

E. Dinding Sel
Dinding sel pada umumnya mengandung selulose, hal ini akan memberikan struktur karakteristik dari teka amfisema adalah nama yang digunakan untuk lapisan terluar khusus dari sel Dinophyceae. Semua tipe mempunyai membran plasa yang berkesinambungan dengan membran flagel pada bagian luar. Pada umumnya terdapat sejumlah pori dalam amfisema dengan trikosit dalam tipe pori.

F. sifat dan karekteristik
Pyrrophyta bersifat fotoautotrof atau heterotrof, sebagai saprofit, parasit, hidup bersimbiose atau holozoik sehingga dinamakan pula sebagai Dinoflagellata karena mempunyai sepasang flagella yang tidak sama panjang.
Karakteristik dari organisme ini dari eukariotik lainnya adalah tetap memadatnya kromosom pada semua stadia sehingga dikenal dengan sifat mesokariotik.

G. Pigmen
Pigmen klorofil klorofil a dan c, peridinin, pirenoid kadang ada atau tidak ada.
H. Cadangan Makanan
Cadangan makanan berupa amilum yang terdapat dalam sitoplasma.
I.Perkembangbiakan
a. Cara Perkembangbiakan
Pyrrophyta memiliki 2 cara perkembangbiakan, yaitu secara:
1.Vegetatif, yaitu dengan pembelahan sel yang bergerak, jika sel memiliki panser, maka selubung akan pecah. Dapat juga dengan cara protoplas membelah membujur, lalu keluarlah dua sel telanjang yang dapat mengembara yang kemudian masing – masing membuat panser lagi. Setelah mengalami waktu istirahat zigot yang mempunyai dinding mengadakan pembelahan reduksi, mengeluarkan sel kembar yang telanjang
2.Sexual, dalam sel terbentuk 4 isogamet yang masing-masing dapat mengadakan perkawinan dengan isogamet dari individu lain
3.Sporik, yaitu dengan zoospora (contohnya Gloeonidium) dan aplanospora (contohnya Glenodinium)
Pada Alexandrium sp, cara perkembangbiakannya yaitu:
Kista-kista tidur dalam dasar laut, tertimbun oleh sedimen. Jika tak terganggu oleh kekuatan fisik atau alam, mereka dapat berada di dasar laut dalam kondisi tertidur untuk waktu bertahun-tahun. Jika terdapat kandungan oksigen dan kondisi memungkinkan, mereka daapt melakukan proses perkecambahan.
Jika suhu hangat dan banyak cahaya yang merangsang perkecambahan ini, kista akan pecah dan mengeluarkan sel yang dapat berenang. Sel ini direproduksi oleh pembelahan sederhana dalam beberapa hari pengeraman.
Jika kondisi tetap optimal, sel akan terus membelah diri secara berlipat, dari dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya. Setiap satu sel dapat menghasilkan beberapa ratus sel dalam se minggu.
Pada saat nutrisi telah habis, pertumbuhan sel berhenti dan terbentuklah sel-sel gamet. Setiap dua sel gamet yang berbeda bersatu membentuk satu sel baru yang berkembang menjadi sebuah zigot dan akhirnya menjadi kista. Kista ini lalu jatuh ke dasar laut dan dapat berbiak pada tahun berikutnya.

J. ekologi

Mayoritas dari dinoflagellata berasal dari lautan, tetapi ada beberapa spesies yang lain yang hidup dia sungai sungai. Dinoflagellata adalah kompenin yang penting dari plankton, khususnya pada kondisi hangat. Sebagai penambahan, beberap spesies adalah benthic atau terjadi dalam peristiwa simbiotik.
Dinoflagellata memiliki variasi nutrisi yang besar, dari range nututropik ke bentuk heterotropik, yang mana terdapat juga invertebrata parasit dan ikan atau alga phagocytiza yang lain. Dinoflagellata yang memiliki sistem fotosintesis dan membutuhkan vitamindissebut autotropi dan yang membutuhkan energi disebut heterotrop.
Pertumbuhan yang cepat dari plankton dinoflagellata mungkin akan menghasilkan warna coklat atau merah perubahan air disebut red tides. Red tides biasanya terjadi pada air pesisir pantai dan muara. Beberapa dinoflagellata menghasilkan red tides adalah luminiscent. Spesies lain mungkin mengandung racun yang dapat dilepaskam kedalam air atau terakumulasi dalam rantai makanan. Dalam beberapa kasus, racun dapat menyebabkan lematian ikan atau menyebabkan keracuna manusia yang makan makanan yang terkontaminasi oleh moluska atau ikan.
Penyebab dari berkebangnya dinoflagelata dan umumnya berhubungan dengan kondisi lokal. Konsentrasi yang tinggi dari sel menghasilkan red tides kadang-kadang diikuti pengkayaan dari air dengan adanya upwelling atau runoff.A sekuen yang khas untuk red tides.
1.Perkecambahan cysts (hipozigot) pada dasar inokulasi sel kedalam air.
2. populasi dar peningkatan sel dengan reproduksi aseksual.
3. akumulasi sel dekatdengan permukaan sebagai hasil dari phototaxis positif.
4. konsentrasi sel mungkin terjadi sebagai hasil dari pergerakan air
5. reproduksi sexsual terjadi dari zigot menjadi cysts, menjaga cadangan padaa fase
Red tides kadang-kadang bermula dari estuaries dan kemudian berkembang kepesisir pantai. Dampak dari red tide pada komunitas lautan bergantung pada spesies tersebut. Oksigen mungkin dihabiskan oleh prose respirasi dari dinoflagelata pada saat malam dan dengan dekomposisi sel ketika masa perkembangan berakhir. Beberapa efek mungkin akan dihasilkan ketika tumpukan spesies mengandung racun terkumpul.
Hanya sedikit dinoflagelata adalah racun(steidinger, 1983; steidinger and baden 1984; taylor, 1985). Biasanya masing-masing spesies membentuk campuran racun yang berbeda. Racun yang utama adalah saxitoxin dan itu dihasilkan oleh alexandrium, brevetoxin dihasilkan oleh phychodscus, dan ciguatoxin dihasilkan oleh grambrerdiscus. Keracunan pada manusia biasanya terjasi setelah memakan ikan atau moluska yang mengamulasi racun yang memakan dinoflagellata.

3.3Bahaya Terhadap Lingkungan Dan Kesehatan
A.Red tides
Efek pada manusia
Principal genus
Principal toxin
Paralytic sheifish
poisoning
Neurotic shelfish poining
Ciguatera fish poisoning
Diarrhetic shelfish poisoning
Alexandrium(=protogonyalx)
Pychodiscus
Gambierdiscus
Dinophysis

Saxioxin
Brevetoxin
Ciguatoxin dan
Maititoxin
Okadaic acid

Pertumbuhan yang cepat dari pyrrophyta akan menghasilkan gamet coklat atau merah pada air sehingga disebut red tides. Red tides biasanya terjadi pada air pesisir pantai dan muara, bebrapara pyrrophyta yang mengakibatkan red tides adalah luminescen. jumlah fitoplankton berlebih di sebuah perairan berpotensi membunuh berbagai jenis biota laut secara massal. Pasalnya, keberadaan fitoplankton mengurangi jumlah oksigen terlarut."Kemungkinan lain, insang- insang ikan penuh dengan fitoplankton. Akibatnya, lendir pembersihnya menggumpal karena fitoplanktonnya berlebih dan ikan pun sulit bernapas. Padahal, mereka terus bergerak," Dugaan di atas diperkuat dengan terjadinya peristiwa pada sore hingga malam hari. Saat itulah fitoplankton membutuhkan oksigen sehingga terjadilah perebutan oksigen. Siang hari, oksigen terlarut justru berlebih karena proses fotosintesis, Misalnya pada perairan teluk Jakarta, karena perairan ini terkenal memiliki nutrien tinggi seiring tingginya limbah organik yang dibawa sungai ke laut. Dampaknya, perairan Teluk Jakarta kelewat subur bagi pertumbuhan fitoplankton yang membutuhkan unsur nitrogen (N) dan fosfat (P) untuk berkembang. Limbah rumah tangga dan industri, di antaranya limbah deterjen dan limbah organik nonlogam berat, merupakan penyedia utama P dan N. Peristiwa ledakan fitoplankton tidak hanya berakibat negatif. Sisi positifnya, ketersediaan fitoplankton dalam jumlah banyak pertanda baik bagi peternakan kerang, terutama kerang hijau (Pena viridis). Selain itu, ikan-ikan yang berada di Laut senantiasa tercukupi kebutuhan makanannya. Namun di sisi lain, kelebihan fitoplankton mengganggu estetika perairan untuk wisata bahari. Red Tide spesies fitoplankton pyrrophyta itu terjadi, menurut Said Mustafa disebabkan empat faktor. Pertama, pengayaan unsur hara dalam dasar laut atau eutrofikasi; Kedua, perubahan
hidro-meteorologi dalam sekala besar; Ketiga, adanya gejala upwelling yaitu pengangkatan massa air yang kaya akan unsur hara ke permukaan, dan; Keempat, akibat hujan dan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar. “Banjir bandang, misalnya, bisa juga membuat air laut pantai timur di Aceh terkena red tide,” katanya
Keempat faktor itu, menurutnya, merupakan faktor penyebab terjadinya red tide spesies fitoplankton pyrrophyta berwarna merah. Spesies ini akan hilang dengan sendirinya, bila ekosistem dalam air kembali seimbang, yaitu kembali pada kondisi normalnya. Perubahan warna air laut terjadi, jika warna merah karena dominasinya spesies alga merah (Dinoplagelata) yang mekar dan tumbuh dari dasar laut melampui batas normalnya.


B. fenomena dan problem

Gambar 3.2 dinoflagelata
Biasanya masing-masing spesies membentuik campuran racun yang berbeda, racun yang utama adalah saxitoxin dan yang dihasilkan oleh Alexandrium, brevetoxin dihasilkan oleh ptyahodiscus, dan ciaduatoxin dihasilkan oleh bambierdiscus. Keracunan manusia biasanya terjadi setelh memakan ikan atau molusca yang megakumulasi racun dari pyrrophyta Tidak semua biota laut yang mati karena fitoplankton berbahaya bila dikonsumsi, di antaranya bergantung pada jenis fitoplankton. Secara umum terbagi dua, yakni jenis harmful algae bloom (HAB) dan non-HAB. Bila berlebih, keduanya berbahaya bagi ikan. "Tidak masalah mengonsumsi ikan yang penyebab kematiannya adalah algae tidak beracun. Dari 20 jenis algae penyebab ikan mati, 17 di antaranya pernah ditemukan di Teluk Jakarta. Tiga di antaranya yang ditemukan di perairan di utara Jakarta adalah jenis Dinophysis spp, Alexandrium spp, dan Pseudonitschia spp. seseorang yang mengonsumsi kerang yang mengandung algae jenis Alexandrium spp, dapat terkena kanker hati paralytic shellfish poisoning (PSP). Jenis racunnya disebut saxitoxin. Berdasarkan penelitian yang pernah diterapkan pada tikus, racun saxitoxin berdaya bunuh 1.100 kali dibandingkan sianida, sedangkan bisa ular kobra "hanya" berdaya bunuh 500 kali. Sedangkan daya bunuh tertinggi terdapat pada algae Gambierdiscus toxicus dengan meitotoxin-nya yang berdaya bunuh 22.000 kali. Menurut Zaenal, salah satu cara melindungi Teluk Jakarta -khususnya dari pencemaran logam berat dan fitoplankton beracun-adalah dengan membangun sanitasi di permukiman. Selain itu, perlu semacam lembaga yang khusus memonitor ketat dampak pencemaran pada biota laut. (GSA)
Dinoflagellata dalam jumlah yang kecil sebagai penyusun komunitas plankton laut, tetapi lebih melimpah di perairan tawar. Fenonema menarik yang dihasilkan oleh Pyrrophyta adalah kemampuan bioluminescence (emisi cahaya oleh organisme), seperti yang dihasilkan oleh Noctiluca, Gonyaulax, Pyrrocystis, Pyrodinium dan Peridinium sehingga menyebabkan laut tampak bercahaya pada malam hari.
Fenomena lainnya adalah pasang merah (red tide) yaitu blooming Pyrrophyta dengan 1- 20 juta sel per liter. Red tide dapat menyebabkan:
1. Kematian ikan dan invertebrata, jika yang blooming adalah Ptychodiscus brevis, Prorocentrum dan Gymnodinium breve
2. Kematian invertebrata jika yang blooming adalah Gonyaulax, Ceratium dan Cochlodinium
3. Kematian organisme laut, yang lebih dikenal sebagai paralytic shellfish poisoning, jika yang blooming adalah Gonyaulax.
Species yang hidup di air laut dari genus Gymnodinium dan Gonyaulax menyebabkan pasang merah ( “red tide”) terutama di daerah pantai New England, Florida, California dan Eropa yang menyebabkan paralitic shellfish poisoning (PSP). Di bawah kondisi lingkungan yang ideal dan didukung adanya substansi pertumbuhan menyebabkan populasi species tertentu bertambah jumlahnya. Riegel (1949) menggambarkan bahwa red tide di Monterey Bay, California kepadatan Gonyaulax mencapai 20 sampai 40 juta organisme per cm3. Namun demikian red tide tidak selalu merah, ada kemungkinan berwarna kuning atau coklat. Konsentrasi substansi metabolic toxic tertentu (saxitoxin) dengan level yang tinggi menyebabkan kehidupan organisme di laut akan terbunuh. Pada tahun 1972 red tide yang terjadi di pantai New England dan Florida, jutaan burung, ikan dan hewan lainnya telah terbunuh dan mendatangkan malapetaka bagi industri kerang-kerangan karena larangan memakan remis besar (clam and cysters).
Gymnodinium merupakan contoh Dinoflagellata yang tubuhnya tidak tersusun oleh pelat-pelat. Banyak dijumpai hidup di air tawar dan air laut, merupakan dinoflagellata yang cingulumnya terletak di tengah-tengah dan melingkari sel dengan sempurna dan berakhir pada permukaan ventral.
Ceratium hidup di air laut ataupun air tawar, mempunyai tiga prosesus dinding sehingga berbentuk seperti terompet, yang satu pada akhir tubuh, sedang yang dua ditempat tubuh lain yang tidak digunakan untuk berlabuh. Histiophysis mempunyai bentuk seperti kendi dan Ornithocercus mempunyai bentuk seperti layar atau sayap.




































BAB 4
DIVISI CHRSOPHYTA
(Ganggang keemasan)

4.1 Klasifikasi
Domain : Eukaryota
Kingdom : Chloromaiveolata
Divisi : Heterokontophyta
Class : Chrysophyta

4.2 IDENTIFIKASI
A. Pengertian Chrysophyta

Gambar 4.1 chrsophyta
Nama Chrysophyta berasal dari bahasa yunani yaitu Chryos yang berarti emas. Chrysophyta adalah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Ganggang berwarna keemasan karena mengandung pigmen karoten dan xantofil.
Alga ini digolongkan ke dalam 3 kelas, yaitu Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae), Kelas alga keemasan (Chrysophyceae), Kelas Diatom (Bacillariophyceae).
a.Xanthophyceae
Alga ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan. Contoh: Vaucheria. Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan disebut Coenocytic. Berkembangbiak secara seksual yaitu dengan oogami artinya terjadi peleburan spermatozoid yang dihasilkan anteridium dengan ovum yang dihasilkan oogonium membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi filamen baru. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk zoospora. Zoospora terlepas dari induknya mengembara dan jatuh di tempat yang cocok menjadi filamen baru.

Gambar 4.2 Vaucheria sessilis menunjukkan struktur reproduktif (antheridium di antara dua oogonia)
b.Chrysophyceae
Alga ini memiliki pigmen keemasan (karoten) dan klorofil. Tubuh ada yang bersel satu, contohnya Ochromonas dan bentuk koloni, contohnya Synura.

Gambar 4.3 Ochromonas sp. Gambar4.4 Synura sp.






c.Bacillariophyceae (diantomae)
Diatom banyak ditemukan dipermukaan tanah basah misal, sawah, got atau parit. Tanah yang mengandung diatom berwarna kuning keemasan. Tubuh ada yang uniseluler dan koloni. Dinding sel tersusun atas dua belahan yaitu kotak (hipoteca) dan tutup (epiteca).

Gambar 4.5 Navicula sp.

B. Habitat
Habitat Chrysophyta biasanya terdapat ditempat-tempat yang basah, air laut, air tawar dan ditanah yang lembab. Untuk xantophyceae hidup di air tawar, air laut dan tanah dan chrysophyceae hidupnya di air laut dan air tawar sedangkan bacillariopphyceae di air laut, di air tawar ataupun pada tanah- tanah yang lembab.

C. Struktur tubuh
Bentuk tubuh
Chrysophyta kebanyakan bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak (multiseluler) dan tubuhnya biasanya berbentuk seperti benang.
Pigmen
Chrysophyta berwarna keemasan, warna keemasan pada Chrysophyta disebabkan oleh karoten dan xantofil. Disamping itu Chrysophyta mempunyai pigmen fotosintesis termasuk klorofil dan karotenoid seperti fukoxantin dan diadinoxantin.
Macam klorofil
Chrysophyta memiliki klorofil A dan C dan klorofil tersebut tersimpan didalam kloroplas yang berbentuk cakram atau lembaran.
Susunan Tubuh
a). Xantophyceae ada 3 bentuk
Berbentuk sel tunggal, contoh : botrydiopsis
Berbentuk filament, contoh : tribonema
Berbentuk tubular/tidak terbatas, contoh: vaucheria.
b). Chrysophyceae ada 2 bentuk
Berbentuk sel tungggal, contoh ochroi
Berbentuk koloni contoh : synura d
c). bacillariophyceae
berbentuk sel tunggal
berbentuk koloni dengan bentuk tubuh simetri bilateral (pennales) dan simetri radial (centrales)



D. Cadangan Makanan
Cadangan makanan pada Chrysophyta berupa tepung krisolaminarin. Dan bahan simpanan utamanya adalah minyak dan krisolaminarin (leukosin) dan kanjinya tidak menimbun.

E. Struktur Sel

Gambar. Diatoms

Gambar. Golden alga
Dinding sel
Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel. Bila ada dinding selnya maka terdiri dari lorika (ex.Dinobryon dan kephryon). Atau tersusun dari lempengan silicon (ex. Sinura dan mallomonas) atau tersusun dari cakram kalsium karbonat (ex. Syracospoera). Struktur selnya tidak mempunyai dinding selulosa dan membrannya menunjukkan kewujudan silica.
Isi Sel
>Xantophyceae
Terdapat inti sel: berentuk tunggal dan berbentuk banyak inti.
Terdapat plastid berbentuk cakram tanpa pienoid
Pigmen : klorofil a dan b, β karoten, xantofil

.> chrysophyceae
Berinti tunggal
Plastida, terdiri dari 1 atau 2
Pigmen, berupa klorofil a, b, c
β karotin, xantofil, berupa lutein, diadinoxantin, fukoxantin dan dinoxantin
>bacillariophyceae
Berinti tunggal dan berinti diploid
Pigmen, berupa klorofil a dan c
β karotin, xantofil
Kloroplas
Kloroplas pada Chrysophyta berwarna coklat keemasan. Chrysophyta menunjukkan perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids disekitar periphery kloroplas (girdle lamina). Kloroplas terdiri dari dua membrane (CER), jarak periplastida antara dua kloroplas dan retikulumendoplasma sempit dan kurang adanya perbedaan struktur.
Ribosom
Ribosom pada Chrysophyta terdapat pada permukaan luar CER.
Alat gerak
Chrysophyta memiliki alat gerak yang terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap marga (struktur dasar flagel pada alga mirip dengan flagel pada mahluk hidup lain. Susunan benang flagel menunjukkan pola 9+2 dengan tipe akronematik (whiplash) dan pantonematik (tinsei).
Contoh: synura dan syracospaera, mempunyai 2 flagel yang sama panjangnya
Dinobryon dan ocromonas, mempunyai 2 flagel yang tidak sama panjangnya
Chrysamoeba, memiliki 1 flagel.
Kedudukan dan keadaan flagelumnya berbeda, selnya boleh menjadi uniflagerum atau biflagerum. Jika biflagelat, flagelumnya mungkin sama panjang atau tidak. Tingkat flagenta yang paling tinggi yaitu heterokontois. Susunan tubuhnya ada yang berbentuk sel tunggal dan berbentuk koloni.
Sel heterokontous mempunyai 2 flagel yaitu flagel licin dengan bulu kaku seperti pipa atau mastigonema dalam dua baris.
Vakuola Kontraktil
Terdapat satu atau dua fakuola kontraktil dalam sel (tergantung pada spesies) yang terletak dekat dasar dari flagel. Masing-masing fakuola kontrakil terdiri atas vesikel kecil yang berdenyut dengan interfal yang teratur, mengeluarkan isinya dari sel. Fakuola kontraktil yang terdapat pada alga yang berflagel fungsi utamanya adalah osmoregulator.
Badan Golgi
Badan golgi terletak di antara inti dan kontraltil fakuola. Badan golgi adalah organela yang terdapat pada sel eukariotik, baik hewan maupun tumbuhan yang strukturnya terdiri dari tumpukan fesikel bentuk cakram atau kantung.
Nukleus
Nukleus dan kloroplas dihubungkan oleh membran kloroplas ER yang mana berhubungan dengan pembungkus inti.

F. Perkembangbiakan
Secara umum perkembangbiakan pada Chrysophyta terjadi secara generatif dan vegetatif. Dengan membelah secara longitudinal dan fragmentasi terjadi menjadi 2 macam yaitu: 1). Koloni memisah menjadi 2 atau lebih (sel tunggal melepaskan diri dari koloni kemudian membentuk koloni yang baru). 2). Sporik dengan membentuk 2 oospora (untuk sel yang tidak berflogel) dan statospora (tipe spora yang unik yang ditemukan pada Chrysophyta, dengan bentuk speris dan bulat, dinding spora bersilla, tersusun atas 2 bagian yang saling tumpang tindih, mempunyai lubang atau pore ditutupi oleh sumbat yang mengandung gelatin).

Gambar. Pinnularia sp. (dengan cara membelah diri).
Berikut adalah uraian perkembangbiakan Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae), Kelas alga keemasan (Chrysophyceae), dan Kelas Diatom (Bacillariophyceae).
Perkembangbiakan Xantophyceae dengan cara vegetatif yaitu pembelahan sel dan fragmentasi secara sporik, dengan pembentukan zoopora misalnya tribonema. Dengan cara pembentukan aplanospora contohnya botrydium, secara gametik dengan oogamet contoh vaucheria dan isogamete contohnya adalah botrydium.
perkembangbiakan Chrysophyceae yang dilakukan scara vegetative dengan membelah secara longitudinal dan fragmentasi ada dua macam yaitu:
a.koloni memisah menjadi 2 bagian atau lebih.
Sel tunggal melepaskan diri dari koloni kemudian membentuk koloni yang baru.
b.sporik, dengan membentuk zoospore (untuk sel-sel yang tidak berflagel) dan statospora.
Statospora yaitu tipe spora paling unik yang diketemukan pada crysophyta, khususnya pada kelas chrysophyceae dengan membentuk speris dan bulat. Dinding spora bersilia tersusun atas 2 bagian yang saling tumpang tindih, mempunyai lubang atau poredan ditutupi oleh sumbat yang mengandung gelatin.
Beberapa spesies bentuk statosporanya bermacam-macam, yaitu:
-ada yang berdinding halus
-berornamen dan
-berduri, ketiga bentuk tersebut dapat diketemukan pada genus yang non motil.
Contohnya : chysomonadales.
Pada genus yang motil statospora yang diketemukan berada pada fase istirahat, yaitu: flagel tertarik kedalam dan membentuk bagian yang sperik atau bulat selanjutnya flagel mengalami diferensiasi internal dari protoplasma yang sperik. Yang terpisah hanya bagian membran plasma dari bagian periferi protoplasma asli. Kemudian sekresi dari dinding antara dua membran plasma yang baru terbentuk, kecuali daerah sirkuler, nantinya akan membentuk lubang.
Perkembangbiakan Bacillariophyceae ssecara vegetatif dengan cara pembelahan sel, dan secara gametik dengan membentuk auxospora, dengan cara :
Partegenesis, pedogami, konyugasi isogami.konyugasi anisogami, autogami dan oogami.


G. Manfaat
Chrysophyta merupakan bagian yang terdiri dari fitoplankton. Navicula merupakan fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of the sea. Beberapa hewan laut kecil seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat, lemak, dan protein dari diatomae. Sisa diaromae yang telah mati berbentuk deposit yang disebut tanah diatoni. Tanah diaromae sering dimanfaatkan sebagai penyerap trinitrogliserin (TNT) pada bahan peledak, campuran semen, sebagai bahan penggosok, bahan penyaring, solasi penyuling gasoline dan glukosa serta digunakan sebagai bahan untuk pembuat jalan.

Disamping itu alga ini berguna sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi, penyekat dinamit, membuat saringan, bahan alat penyadap suara, bahan pembuat cat, pernis, dan piringan hitam. Chrysophyta merupakan bagian yang terdiri dari fitoplankton. Navicula merupakan fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of the sea. Beberapa hewan laut kecil seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat, lemak, dan protein dari diatomae. Sisa diaromae yang telah mati berbentuk deposit yang disebut tanah diatoni. Tanah diaromae sering dimanfaatkan sebagai penyerap trinitrogliserin (TNT) pada bahan peledak, campuran semen, sebagai bahan penggosok, bahan penyaring, solasi penyuling gasoline dan glukosa serta digunakan sebagai bahan untuk pembuat jalan.
Alga ini memiliki klorofil (pigmen hijau) dan xantofil (pigmen kuning) karena itu warnanya hijau kekuning-kuningan. Contoh: Vaucheria. Vaucheria tersusun atas banyak sel yang berbentuk benang, bercabang tapi tidak bersekat. Filamen mempunyai banyak inti dan disebut Coenocytic. Berkembangbiak secara seksual yaitu dengan oogami artinya terjadi peleburan spermatozoid yang dihasilkan anteridium dengan ovum yang dihasilkan oogonium membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi filamen baru. Reproduksi secara vegetatif dengan membentuk zoospora. Zoospora terlepas dari induknya mengembara dan jatuh di tempat yang cocok menjadi filamen baru.
Alga ini memiliki pigmen keemasan (karoten) dan klorofil. Tubuh ada yang bersel satu, contohnya Ochromonas dan bentuk koloni, contohnya Synura. Diatom banyak ditemukan dipermukaan tanah basah misal, sawah, got atau parit. Tanah yang mengandung diatom berwarna kuning keemasan. Tubuh ada yang uniseluler dan koloni. Dinding sel tersusun atas dua belahan yaitu kotak (hipoteca) dan tutup (epiteca). Reproduksi secara aseksual yaitu dengan cara membelah diri.


BAB 5
DIVISI PHAEOPHYTA (GANGGANG COKLAT)
5.1Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Devisio : Phaeophyta
Genus : Brown Algae
Klas : Phaeophyceae

5.2 IDENTIFIKASI
A.Pengertian

Phaeophyceae atau Ganggang coklat adalah salah satu kelas dari dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Pigmen yang lebih dominan adalah pigmen xantofil yang menyebabkan ganggang berwarna coklat. Pigmen lain yang terdapat dalam Phaeophyceae adalah klorofil A dan C serta karoten. Sebagian besar Phaeophyceae terdapat dilaut, hanya ada tiga jenis saja yang hidup di air tawar dan jenis-jenis ini merupakan jenis yang langka. Phaeophyceae banyak terdapat didaerah yang beriklim dingin. Alga ini banyak mendominasi bagian lateral daerah artik dan antartik. Walaupun demikian, ada jenis-jenis lainnya yang hidup didaerah tropic dan subtropik. Sebagian besar dari phaeophyceae hidup melekat pada subtract karang dan lainnya. Beberapa diantaranya hidup sebagai epifit.
Paeophyta atau ganggang coklat dibagi menjadi tiga golongan, berdasarkan tipe pergantian keturunan. Ganggang coklat ini hidup pada air laut, hanya beberapa jenis saja yang di temukan di air laut,hanya bebepa saja yang hidup di air tawar, di laut samudra, di daerah iklim sedang dan dingin.
Ganggang coklat ini masuk dalam satu kelompok yang sangat besar, Heterokontopyta,suatu eukaryotic kelompok organisma yang di bedakan secara mencolok, ganggang ini lebih banyak di temukan irtidal, terutama pada daerah belahan utara.Anggota phaeophyta di temukan sekitar 500 genus dengan 5600 spesies. Pada daerah tropis, beberapa spesies ini dapat membentuk biomasa penting.
Semua ganggang coklat berbentuk benang atau lembaran, bahkan ada yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi denganbagian-bagian serupa akar, batang, dan daun.Umumnya ganggang coklat bersifat makroskopis,dan dapat mencapai ukuran lebih dari30 meter, danm mempunyai gelembung-gelembung udara yang berfungsi sebagai pelampung. Dan phaeophyta sendiri mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia di antaranya: Sebagai bahan makanan, pengasil alginate di laboratorium,dalam industri sebagai bahan kosmetik, farmasi,Dan penyusun fosil. Contoh Spesies Phaeophyta, Fucus vesiculosus, Sargassum duplicatum, Sargassum binderi, Turbinaria decurens, Padina australis hauck.
B.Habitat
Phaeophyta sebagian besar hidup di air laut hanya beberapa saja yang hidup di air tawar. Dan ada yang terdampar di pinggir pantai, melekat pada batu-batuan dengan alat pelekat semacam akar (hold fast). Phaeophyta ini juga hidup di tempat yang bersuhu dinggin dan sedang.
Phaeophyta ditemukan di seluruh dunia. Hampir semua adalah organisme laut dan lebih dingin, air aktif, meskipun beberapa lebih suka iklim tropis dan subtropis. Phaeophytes yang lebih sejuk karena iklim sejuk air itu mampu bertahan lebih tinggi konsentrasi karbon dioksida, yang digunakan dalam fotosintesis. Mereka ditemukan di lepas pantai hampir setiap negara. Mereka adalah bagian penting dari flora laut, karena menyediakan makanan, tempat berlindung, pemijahan daerah, dan substrat untuk berbagai hewan laut.
C.Struktur tubuh
Tubuh selalu berupa talus yang multi seluler yang berbentuk filament atau lembaran atau menyerupai semak atau pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah iklim, dingin. Panjang tubuh maximum mencapai 100m.

D.Struktur sel
Sel vegetatif mengandung khloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita,mengandung khorofil a dan klorofil c serta beberapa xantofil misalnya fukosatin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Dinding sel menandung selulose dan asam alginate.
Umumnya dapat ditemukan adanya dinding sel, yang tersusun dari tiga macam polimer, yaitu : selulosa, asam aginat, fukan dan fukoidin. Dimana algin dan fukoidin lebih kompleks dari selulosa dan gabungan dari keduanya membentuk fikokoloid. Kadang-kadang dinding selnya juga mengalami pengapuran. Inti selnya berinti tunggal, bagian pangkal berinti banyak. Kloroplas dengan berbagai macam bentuk, ukuran dan jumlah. Ganggang coklat ini memiliki pigmen klorofil a dan c, ? karoten dan mengandung xantofil (Fukoxantin yang terdiri dari violaxantin, flavoxantin, neofukoxantin a dan neofukoxantin b. selain itu ganggang coklat memiliki cadangan makanan berupa laminaria , sejenis karbohidrat yang meyerupai dekstrin yang lebih dekat dengan selulosa daripada zat tepung. Selain laminarin juga ditemukan manitol, minyak dan zat-zat yang lainnya.

E.Perkembang biakan
Perkembang biakan vegetatif (aseksual) dengan frakmentasi dan membentuk spora (aplanospora dan zoospora). Zoospora yang dihasilkan memiliki 2 flagel yang tidak sama panjang dan terletak di bagian lateral. Reproduksi generatif dengan membentuk alat kelamin yang disebut konseptakel jantan dan konseptakel betina. Didalam konseptakel jantan terdapat anteridium dan di dalam konseptakel betina terdapat oogonium yang menghasilkan ovum. Spermatozoid membuahi ovum yang menghasilkan zigot.
perkembang biakan pada bangsa ganggang coklat ini terjadi secara vegetatif, sporik dan gametik. Perkembang biakan secara vegetatif dilakukan dengan cperantara cabang-cabang kecil yang dibentuk di bagian basal dari thalussnya atau dapat pula dilakukan secara fragmentasi thalussnya. Perkembangbiakan seksual dilakukan secara oogamis ganggang ini bersifat monoeisis atau diesis.
G.Pembuahan
Sebelum terjadi pembuahan banyak antherezoid mengelilingi sel telur. Pada gangang ini terbentuk 8 sel telur biasanya hanya satu antherozoid yang masuk ke sel telur. Dalam waktu satu jam kedua intinya melebur dan terjafilah inti diploid. Zigot segera membentuk dindind yang berlendir dan dapat melekat pada subtract ziigot membentuk dinding yang membentuk tonjolan yang akan membentuk rhizoid hingga adanya polaritas. Factor luar seperti suhu , ph, dan adanya zat pengatur di dalam sel telur merupakan factor perangsang bagi terjadinya polaritas.karena adanya cadangan makanan yang cukup didalam telur . maka mula-mula pertumbuhan embrionya cepat.tetapi kemudian pertumbuhan menjadi lambat Karen atergantung dari foto sintesis tubuh yang membentuk bersifat diploid dan pembelahan reduksi terjadi pada waktu gametogenesis jadi daur hidupnya bersifat diplotik.





H.Contoh spesies dari Phaeophyta

Fucus vesiculosus, banyak terdapat di laut dalam.Berkembang biak secara oogami dengan menghasilkan ovum dan sel gamet jantan menghasilkan spermatozoid.Sel gamet jantan dan sel gamet betina masing-masing di hasilkan oleh tumbuhan yang berbeda.sel gamet jantan dihasilkan oleh konseptakel dan berkumpul dalam reseptakel.
Sargasum siliquosum, hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang. Dipantai yang bersuhu sedang, Sargasum tumbuh subur sehingga menutupi permukaan laut.
Turbinaria australis, hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel pada batu karang.
Cytoseira sp, Berbentuk tegak, warna coklat, sumbu tegak silindris, talus besar seperti pita, bertepi rata, tersusun agak berhadapan atau berselingdan bulat agak bulat tersusun seri, ujungnya runcing. Hidup mulai zona pasang surut bagian tengah.

gambar literature dan contoh-contoh phaeophyta

Chnoospora implexa
C. implexa bentuk padat Branched sebagai bantal-bantal besar sebagai diameter 40 cm, tetapi mereka biasanya lebih kecil.Memiliki cabang dari 2 sampai 5 mm diameter yang solid di tengah, dan warna coklat keabu-abuan untuk cahaya. Rumput laut ini menyerupai Rosenvingea intricata, tetapi biasanya ditemukan tumbuh di pasang renang pada basal batu, sementara R. intricata ditemukan pada karang dan flat di pasang renang di batuan kapur.

Chnoospora minima
tumbuh di habitat intertidal tinggi di sepanjang pantai di mana batu besar gelombang istirahat. Ini sering muncul di saat musim gelombang tinggi menyerang pulau-pulau dan kemudian mati kembali ketika calmer laut berlaku. Warna coklat gelap dan tinggi bervariasi dari 3 sampai 15 cm.Rumput laut ini sering memiliki fuzzy pertumbuhan diatoms dekat dengan tips dari cabang.

Colpomenia sinuosa (paha)
C adalah sinuosa melubang saclike rumput laut yang emas dalam warna coklat dan dapat memiliki kelancaran atau membelit permukaan. Hal ini dapat dilihat di beberapa habitat.
Setelah tumbuh intertidally atau lainnya pada seaweeds biasanya kecil, dari 1 hingga 5 cm diameter, tetapi ketika tumbuh di pasang renang dan karang flat ini cukup besar, hingga diameter 20 cm.

Dictyopteris australis (lipoa)
. D. australis adalah kedalaman air yang melimpah rumput laut di Hawaii. Hal ini sering ditemukan di tempat tidur yang luas lebat di luar crests karang di kedalaman antara 3 sampai dengan 20 m, dan kadang-kadang juga hadir pada karang flat. Warna coklat gelap dengan bintik-bintik, ukuran bervariasi dari 10 sampai 40 cm, dan Blades adalah rata, dari 1 hingga 2 cm, dengan midrib dan ruffled margin.Rumput laut ini menghasilkan bau yang kuat, seperti D. plagiogramma.

Dictyopteris plagiogramma (lipoa)
D. Rumput laut ini sama dengan D. australis tetapi lebih kecil, dari 5 sampai 20 cm tinggi, dan telah sempit Blades, dari 0,5 hingga 1 `cm. plagiogramma adalah coklat dan Blades telah ruffled margin dan midrib.Hal ini ditemukan pada batu di pantai tentang tingkat nol pasang, karang flat, dan di luar karang crests lebih dalam air.

Dictyota acutiloba (alani)
D. acutiloba telah rata, spirally berputar Blades dari saya untuk 2 mm cabang yang luas dalam pola dan Y tidak mempunyai 'midrib.Ukuran bervariasi dari 3 hingga 20 cm, dan warna coklat cahaya. Rumput laut ini umumnya ditemukan di pasang renang, karang flat, dan di lebih subtidal habitat.

Dictyota bartayresii (alani)
D. bartayresii adalah cahaya warnawarni kebiru-biruan-hijau dan mempunyai cabang dari 2 sampai 5 mm lebar yang telah berkembang tips dan tidak midrib. Rumput laut ini adalah membangun, dari 2 sampai 10 cm tinggi, dan berkembang di bawah intertidal habitat batu karang dan flat D. Rumput laut ini tidak memiliki cabang samping kecil seperti D. sandvicensis. sandvicensis.

Dictyota divaricata
D. divaricata memproduksi sebuah terang kebiru-biruan atau hijauan iridescence. Ia telah menunjuk untwisted rata cabang tanpa midribs yang 0,5 sampai 3 mm lebar. Ini rumput laut mencapai ketinggian 5 cm dan sering ditemukan tumbuh lain lain Ganggang di pasang renang, karang flat, dan lebih mendalam di kedalaman di antara cabang-cabang karang.

Dictyota friabilis
D. friabilis adalah lampu hijau kebiru-biruan-warnawarni dengan lebar rata cabang dari 3 hingga 10 mm yang telah berkembang tips dan kekurangan yang midrib. Rumput laut ini tumbuh di batu atau lainnya Ganggang minum, dan ditemukan di pasang renang, karang flat, dan lain dalam dangkalan subtidal habitat.

Dictyota sandvicensis (alani)
D. sandvicensis pameran yang nyata-hijau kekuning-kuningan iridescence. The Blades adalah 2 sampai 5 mm lebar, kurangnya midribs, cabang di Y pola, kadang-kadang berputar, dan seringkali tetapi tidak selalu memiliki banyak cabang samping kecil. Rumput laut ini mencapai ketinggian 12 cm dan umum di pasang renang dan karang flat.

Endarachne binghamiae
binghamiae biasanya ditemukan selama musim dingin bulan tinggi di pantai intertidal batu. Rumput laut ini adalah cahaya coklat, unbranched, dan bentuk kecil tufts beberapa Blades 2 sampai 5 mm dan lebar 5 sampai 15 cm panjang berkembang dari satu pegangan erat.

Giffordia breviarticulata (hulu'ilio)
G. breviarticulata sangat umum rumput laut dari garis pantai colonizing batu yang sangat tinggi intertidal habita. Ia terdiri dari banyak masai filaments denda yang membentuk sepon, ropelike berjambul dari I ke 5 cm panjang. Biasanya emas dalam warna coklat, kadang-kadang mungkin muncul karena hijauan mikroskopis biru-hijau epiphytically alga yang tumbuh pada permukaan.

Hydroclathrus clathratus (poha)
. H. clathratus biasanya bentuk lampu-ke-coklat zaitun massa yang sangat istimewa perforations. Rumput laut ini dapat mencapai diameter 30 cm tetapi lebih sering lebih kecil. Hal ini umumnya ditemukan di pasang hangat dan kolam renang di karang dangkal flat.

Lobophora variegata
L. ceper variegata adalah rumput laut dari 1 sampai 8 cm prostrately yang tumbuh di atas batu substrates tetapi hanya terpasang di beberapa tempat. Orange ke coklat gelap dengan tanda-tanda radial, dijumpai di bawah intertidal habitat, di pasang renang, dan karang flat.

Padina australis
P. australis adalah rumput laut dengan rata-terguling dalam margin yang menjadi sempit Splits kipas angin berbentuk bagian. Ini adalah cahaya dalam warna coklat dan sedikit calcified. Terlampir oleh satu pegangan erat, ia dapat dari 5 sampai 20 cm tinggi dan mendalam ditemukan di pasang renang dan karang flat.

Padina japonica
P. japonica dicirikan oleh flat blade terguling ke dalam lingkaran dan di-terguling margin. Atas permukaan yang blade adalah keputih-putihan karena kehadiran Kalsium Karbonat, sedangkan bagian bawah permukaan, dengan kurang proses mengeras menjadi kapur, yang kecoklatan. Rumput laut ini sangat umum di laut dangkal renang, di mana ia mencapai ketinggian 10 cm, dan karang flat, di mana ia dapat tinggi 20 cm.

Padina thivyi
P. thivyi memiliki tekstur keras, di-terguling margin, dan warna abu-abu keputih-putihan karena kehadiran Kalsium Karbonat. Biasanya bentuk tikar tebal dari 2 sampai 10 cm pada karang flat dan kadang-kadang di pasang renang.

Ralisia pangoensis
Ada beberapa jenis Ralisia ditemukan di Hawaii.. Mereka adalah coklat gelap crustose seaweeds yang tumbuh di atas batu radially minum. Mereka taat tegas ke bawah dengan hanya luar margin gratis. From 1 to 6 cm in diameter, these seaweeds can be found in almost any tide pool or reef habitat. Dari 1 sampai 6 cm diameter, seaweeds ini dapat ditemukan di hampir semua pasang renang atau habitat terumbu karang.

Rosenvingea intricata
R. intricata bentuk emas-coklat bantal-bantal dari 3 sampai 10 cm dan tinggi dari 5 sampai 15 cm diameter. . Ia telah bulat rongga cabang dari 2 sampai 5 mm diameter. Rumput laut ini menyerupai Chnoospora implexa, tetapi ditemukan pada karang dan flat di pasang di kolam renang sedangkan C batu kapur. Implexa biasanya ditemukan di basal pasang renang.

Sargassum echinocarpum
S. echinocarpum umumnya ditemukan di gelombang-batu aparat kepolisian intertidal habitat, di pasang renang, dan karang flat. Memiliki emas untuk coklat gelap seperti daun-Blades dengan pertengahan tulang rusuk batang dan merata. Blades yang biasanya kurus tapi kadang-kadang lancar. Ada kecil sering membengkak gas yang mempunyai bladders merata tangkainya. Rumput laut ini dapat dari 5 sampai 70 cm panjang dengan Blades dari 0,5 sampai 3 cm.

Sargassum obtusifolium
S. obtusifolium umumnya ditemukan di pasang renang dan karang flat Ia telah cahaya coklat seperti daun-Blades dengan midrib, bulat, kelancaran batang utama, dan gas bladders pada putaran kelancaran tangkainya, meskipun ini tidak selalu hadir.Rumput laut ini dapat dari 5 sampai 50 cm tinggi dan memiliki Blades dari 0,3 hingga 2 cm.

Sargassum polyphyllum (kala)
S. polyphyllum ditemukan pada gelombang-aparat kepolisian bangku, pasang di kolam renang, karang flat, dan kadang-kadang di kedalaman lebih mendalam. Ia telah banyak cahaya coklat seperti daun-Blades dengan midrib, dan ketika hadir, gas yang mempunyai bladders seperti daun-tangkainya.Rumput laut ini dapat dari 5 sampai 40 cm tinggi dan memiliki Blades saya dari 0,5 cm.

Spatoglossum solierii
S. solierii telah datar, tipis, seperti tali-Blades tanpa midribs yang berasal dari 5 sampai 40 cm dan panjang dari saya untuk 5 cm. Ianya ditemui pada mendalam karang flat di kedalaman 1 sampai 5 m dan coklat.

Sphacelaria furcigera
S. furcigera adalah hitam fuzzy seikat filaments semua yang kira-kira yang sama panjang. Hingga 2 cm tinggi, yang umumnya tumbuh pada permukaan batu atau lebih besar seaweeds di pasang renang dan karang flat.

Stypopodium hawaiiensis
S. hawaiiensis, dari 1 hingga 5 cm, pameran yang indah warnawarni biru atau warna hijau. Ia terdiri daripada rata Blades banyak yang tidak mempunyai pengetahuan yang bergulung-margin seperti pada serupa muncul-jenis Padina. Rumput laut ini ditemukan pada gelombang-aparat kepolisian dan karang bangku flat, di mana para terang pewarnaan menjadikannya mudah perhatikan.

Turbinaria ornata
. T. ornata adalah kaku, rumput laut dengan mendirikan istimewa tajam serban-seperti Blades dan pusat batang. Cahaya coklat sampai coklat, dari 2 sampai 20 cm tinggi, tumbuh pada batu intertidal pantai, di tidep ools, dan karang flat dan crests.

Peranan Phaeophyta
Sebagian besar paeophyta di gunakan oleh masyarakat sebagai bahan makanan ada pula yang menggunakan sebagai bahan lab, dan ada juga yang memanfaatkan sebagai bahan obat dan pelekat fosil. Para ilmuwan memanfaatkan phaeophyta untuk melawan timbulnya kaker kulit yang di sebabkan oleh terpaparnya sinar matahari.











BAB 6

KESIMPULAN

1.Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan tumbuhan taluskarena belum memiliki akar, batang dan daun sejati. Algae (ganggang) dapat dibedakan menjaditujuh kelompok yaitu : cyanophyta, cholrophyta, euglenophyta, pyrrophyta, crysophyta, phaeophyta, rhodophyta.
2. Chlorophyceae merupakan talus yang memiliki kloroplas yang berwarna hijau, mengandung klorofil-a, dan b serta karotenoid, hidup diair tawar, air laut, dan tempat basah. Bereproduksi secara seksual (anisogami) dan aseksual (zoospora).
3. Habitat pyrrophyta dominan di perairan laut,dan beberapa terdapat di perairan tawar.
Tipe sel pyrrophyta memiliki sifat yang tidak umum,terutama pada thecal dan nukeusnya
Pertumbuhan yang sangat cepat dari fitoplankton pyrrophyta dapat menyebabkan red tides pada perairan,yang akhirnya dapat menyebabkan kematian pada organisme laut karena minimnya oksigen.
Saxitoxin pada Alexandrium sp. Menyebabkan prnyakit kanker hati Paralytic Shellfish Poisoning (PSP).
4.Chrysophyta adalah salah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warnanya atau pigmen.
Chrysophyta hidup ditempat yang basah, air tawar dan air laut.
Chrysophyta mempunyai klorofil A dan C.
Chrysophyta kloroplasnya mengandung pigmen karoten dan xantofil.
Pada Chrysophyta isi sel (berinti tunggal) memiliki plastida yang terdiri 1 atau 2
Cadangan makanan pada Chrysophyta berupa minyak dan tepung krisolaminarin
Perkembangbiakan Chrysophyta dilakukan dengan cara vegetatif (dengan pembelahan sel, fragmentasi, pemisahan koloni dan pembentukan spora) dan dengan cara generatif.
5.Phaeophyceae atau Ganggang coklat adalah salah satu kelas dari dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Pigmen yang lebih dominan adalah pigmen xantofil yang menyebabkan ganggang berwarna coklat. Pigmen lain yang terdapat dalam Phaeophyceae adalah klorofil A dan C serta karoten




DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2008. Ganggang coklat. (Online).
http://id.wikipedia.org/wiki/Ganggang coklat”. Diakses Tanggal 11november 2008.
Anonymous. 2008. Divisi Phaeophyta. (Online).
http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?moid=134&fnae=%20bio_106_kb2 haaman19.htm. Diakses Tanggal 11 Oktober 2007.
Anonymous. 2008. Ciri –ciri alga (ganggang).
(Online). http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?mod=134&fnae=%20bio_106_kb2hal20.htm. Diakses Tanggal 11 november 2008.
Anonymous. 2008. Division Phaeopyta (Brown Algae). (Online).
http://www.cs.cuc.edu/~tfucher/Phaeophyta.html. Diakses Tanggal 11 november 2008.
Anonymous. 2008. Divisi clorophyta.
http://id.wikipedia.org/ clorophyta. Diakses Tanggal 10 november 2008.11.12
Anonymous. 2008. Divisi crysophyta.
http://id.wikipedia.org/ crysophyta. Diakses Tanggal 10 november 2008.11.12
Anonymous. 2008. Division Pyrrophyta (online).
http://www.cs.cuc.edu/~tfucher/Phaeophyta.html. Diakses Tanggal 11 november 2008.
Gembong, T.1994. Taksonomi Tumbuhan. Bhatara. Jakarta.
Latifah, roimil. 2001. Botani tumbuhan rendah. Malang. Umm.

2 komentar:

alvin 16 Februari 2009 20.18  

selamat udah nongol di google

Rizal Ibnu Qosim 27 Mei 2009 01.06  

temenan yuk... ne blog ane...
rizal-ibnuqosim.blogspot.com
pedangcinta-rizal.blogspot.com

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger template Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP